Penggemukan Sapi Potong Pola HCS

penggemukan-sapi-potongPenggemukan sapi potong baik skala usaha kecil maupun besar sekarang banyak diminati oleh kalangan  investor, besarnya investasi tidak jadi soal jika keuntungan akan lebih baik yaitu dengan  cara perawatan intensif, management ternak, lokasi yang cocok dan bibit unggul yang tepat. Usaha ternak sapi disini tidak sama dengan peternak dengan pola tradisional yang hanya tergolong ternak sambilan  jadi hasilnya juga tidak tertarget dengan jelas. Dengan demikian PT Hidup Cerah Sejahtera memberikan solusi cara beternak sapi potong agar tercapai kuantitas, kualitas dan memberi manfaat bagi kelestarian lingkungan. Baiklah langsung kita mulai dari :

1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan. Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak. Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat. Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan lainnya. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5×2 m atau 2,5×2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8×2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5×1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m). Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.

a) Konstruksi dan letak kandang

Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang. Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing
sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap kering.
Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal
dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak
terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar.
Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang
bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan
tidak boleh kehabisan setiap saat.
Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter
dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan
kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang.

b) Ukuran Kandang

Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5×1 m.

c) Perlengkapan Kandang

Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai.

Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya. Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan sapi.

2. Pembibitan

Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:
a) Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.
b) Matanya tampak cerah dan bersih.
c) Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.
d) Kukunya tidak terasa panas bila diraba.
e) Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.
f) Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.
h) Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.
i) Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.

Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:
1) tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.
2) kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.
3) laju pertumbuhannya relatif cepat.
4) efisiensi bahannya tinggi.

3. Pemeliharaan

Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :
a) Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.
b) Mempermudah perawatan dan pemantauan.
c) Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.
Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga. Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.

1. Sanitasi dan Tindakan Preventif

Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.

2. Pemberian Pakan

Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Di sini PT HCS berperan aktif dalam meningkatkan kualitas pakan agar tercapai hasil yang maksimal.

Pemberian pakan dapat dilakukan 2 kali sehari yaitu dengan pemberian konsentrat setiap pagi dan sore

Cara membuat konsentrat pakan sapi adalah sebagai berikut:

1. SERAT KASAR 50 % / 35 %

  • debok
  • enceng gondok
  • tebong2 basah

JERAMI LAINNYA YG BASAH (pilih salah satu)

2. PROTEIN         35 % / 50 %        

  •  ampas bir
  • ampas tahu
  • kleci
  • kopra

(pilih salah satu)

3. KARBONHIDRAT  15 %              

  • Jagung
  • Ampas telo
  • Onggok
  • Bekatul

(pilih salah satu)

4. TETES TEBU  /  GULA  1 ons untuk bahan 100 kg + NANAS  1 %

5. GARAM DAPUR  1 %

6. AIR BERSIH 1 ltr

7. SOC 3-6 tutup

Cara pembuatannya: cacah bahan serat dan campurkan ketiga jenis bahan yaitu serat, protein dan karbohidrat lalu di beri larutan SOC yang telah di beri larutan tetes tebu/gula pasir + nanas kemudian taburkan garam dapur diatasnya dan aduk sampai rata selanjutnya kita fermentasi selama 3 jam.
Setelah jadi pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan istilah kereman. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% – 2% dari berat badan. Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman. Menurut keadaannya.

 jenis hijauan  dapat kita berikan untuk pakan tambahan, hijauan dibagi menjadi 3 katagori, yaitu:

  1. hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.
  2. Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar.
  3. Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.
  4. Pemeliharaan Kandang
    Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.

I. Investasi pada sapi PO kebutuhan hari biasa

Berikut ini contoh analisa usaha budidaya penggemukan sapi :

ternak-sapi-potong-pola-hcs

Asumsi-asumsi :

  • Lahan yang digunakan merupakan tanah pekarangan yang belum dimanfaatkan dan tidak diperhitungkan untuk sewa lahannya.
  • Sapi bakalan yang dipelihara sebanyak 6 ekor jenis PO dengan harga awal Rp. 7.000.000/ekor dan berat badan sekitar 250 kg/ekor
  • Sapi dipelihara selama 6 bulan dengan penambahan berat badan sekitar 1 kg/ekor/hari
  • Kandang yang dibutuhkan seluas 30 M2 dengan biaya Rp. 400.000/M2
  • Penyusustan kandang 20 % / tahun dengan demikian penyusutan untuk satu periode 10 %
  • Sapi membutuhkan obat-obatan sebesar Rp. 60.000/ekor/periode
  • Tenaga kerja 1 orang dengan gaji Rp. 500.000/bulan
  • Peralatan kandang dibutuhkan sebesar Rp 500.000/tahun, dengan demikian untuk satu periode Rp. 250.000
  • Kotoran yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 6.000 kg dengan harga Rp. 200/kg
  • Pakan yang diperlukan untuk satu periode
  1. HMT 40 kg x 6 x 180 x Rp.100
  2. Konsentrat 3 kg x 6 x 180 x Rp. 650
  3. Pakan tambahan 3 kg x 6 x 180 x Rp. 200

A. MODAL USAHA

Biaya Investasi

1. Pembuatan kandang 30 M2 x Rp. 400.000                                    Rp. 12.000.000

2. Peralatan kandang                                                                         Rp.  500.000

Biaya Variabel

1. Sapi bakalan 6 x Rp. 7.000.000                                                   Rp. 42.000.000

2. HMT                                                                                              Rp.   4.320.000

3. Konsentrat                                                                                   Rp.   2.106.000

4. Pakan Tambahan                                                                        Rp.      648.000

Total Biaya Variabel                                                                        Rp. 49.074.000

Biaya Tetap

1. Tenaga Kerja 1 orang x 6 x Rp. 500.000                                       Rp.  3.000.000

2. Penyusustan kandang 10 % x Rp. 12.000.000                              Rp.  1.200.000

3. Penyusutan peralatan                                                                   Rp.     250.000

Total Modal Tetap                                                                    Rp.   4.450.000

TOTAL BIAYA PRODUKSI = Rp. 49.074.000 + Rp. 4.450.000 = Rp. 53.524.000

B. PENERIMAAN

Penjualan sapi dan kotoran

Penambahan berat badan 1 kg x 180 = 180 kg/ekor/periode dan berat badan sapi sekarang untuk setiap ekor adalah 430 kg, untuk berat keseluruhan adalah 6 x 430 kg = 2.580 kg dengan harga Rp. 32.000/kg. jadi uang yang didapat adalah Rp. 82.560.000

· Penjualan kotoran ternak 6.000 x Rp. 200 = Rp. 1.200.000

TOTAL PENERIMAAN = Rp. 82.560.000 + Rp. 1.200.000 = Rp. 83.760.000

KEUNTUNGAN = Rp. 83.560.000 – Rp. 53.524.000 = Rp. 30.236.000

B/C Ratio = Rp.83.560.000 : Rp. 53.524.000 = 1.56

( artinya dalam satu periode produksi dari setiap modal Rp. 100 yang dikeluarkan akan diperoleh pendapatan sebanyak Rp. 156 )

BEP ( Break Even Point )

1. BEP Harga = Total biaya : Berat sapi total

= Rp. 53.524.000 : 2.580

= Rp. 20.745 / kg

2. BEP Volume Produksi = Total biaya produksi : Harga jual

= Rp. 53.524.000 : Rp.32.000/kg

= 1.673 kg

Artinya usaha penggemukan sapi ini akan mencapai titik impas jika 6 ekor sapi mencapai berat badan 1.673 kg atau harga jual Rp. 20.745/kg

II. Investasi pada Sapi PO kebutuhan Hari Raya Qurban / Idul Adha

Untuk Sapi PO patokan harga yang biasanya dipakai adalah harga taksiran, harga sapi PO pada saat Idul Adha bervariasi mulai dari Rp. 9,000,000 – Rp. 15,000,000.

Semakin mendekati hari Raya Qurban harga sapi semakin melambung, selain itu banyak pula beredar sapi yang ditawarkan dengan harga terlalu tinggi. Untuk hal tersebut kami menawarkan system pembelian sapi PO kebutuhan hari raya Qurban dengan system booking.

Melalui system booking, konsumen bisa mendapatkan sapi kebutuhan hari raya Qurban dengan kualitas bermutu dan dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan membeli pada pedagang umum di hari raya qurban.

Penambahan berat badan 1 kg x 180 = 180 kg/ekor/periode dan berat badan sapi sekarang untuk setiap ekor adalah 430 kg, untuk berat keseluruhan adalah 6 x 430 kg = 2.580 kg dengan harga Rp. 37.000/kg. jadi uang yang didapat adalah Rp. 95.460.000

Penjualan kotoran ternak 6.000 x Rp. 200 = Rp. 1.200.000

TOTAL PENERIMAAN = Rp. 95.460.000  + Rp. 1.200.000 = Rp. 96.660.000

KEUNTUNGAN = Rp.96.660.000 – Rp. 53.524.000 = Rp. 43.136.000

B/C Ratio = Rp. 96.660.000 : Rp. 53.524.000 = 1,8

( artinya dalam satu periode produksi dari setiap modal Rp. 100 yang dikeluarkan akan diperoleh pendapatan sebanyak Rp. 180 )

BEP ( Break Even Point )

1. BEP Harga = Total biaya : Berat sapi total

= Rp. 53.524.000 : 2.580

= Rp. 20.745 / kg

2. BEP Volume Produksi = Total biaya produksi : Harga jual

= Rp. 53.524.000 : Rp.37.000/kg

= 1.446 kg

Artinya usaha penggemukan sapi ini akan mencapai titik impas jika 6 ekor sapi mencapai berat badan 1.446  kg atau harga jual Rp.20.745 /kg

3 thoughts on “Penggemukan Sapi Potong Pola HCS”

  1. Salam. Dimana produk SOC dpt sy peroleh didaerah SUMBAR. Apakah dgn pemakaian produk tsb dpt mengurangi bau kotoran ternak, krn sy berencana memanfaatkan garase yg kosong jadi kandang sapi dan berada dikomplek perumahan.

  2. Saya berencana buka usaha Penggemukan sapi (tahap pembuatan kandang). Mohon info & advice nya kaitan dg Pengadaan Sapi Bakalannya, dimana dan bagaimana memperolehnya ? Tks

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *